MENJADI MUSLIMIN MENJADI INDONESIA
OLEH: DIKY FAQIH MAULANA
Ucapan khas Gus
Dur dalam judul lagu itu jelas mewakili kepribadian sosok Guru Bangsa yang
tidak pernah “grusah-grusuh” dalam menghadapi suatu persoalan, tentunya bukan urusan
kecil saja bahkan sampai lingkup negara.
Sekilas, ucapan
tersebut terlihat enteng dan sepele. Namun dibalik itu, penelitian mahasiswa
Harvard menyebutkan ada dua filosofi mendalam. Pertama ketauhidan, dimana Gus
Dur yakin bahwa Tuhan akan memberi jalan keluar setiap adanya persoalan. Kedua
keikhlasan, Gus Dur meyakini bahwa sesuatu akan terjadi atas kehendak Ilahi.
Disitu sangat terlihat kepribadian Sang Kyai sekaligus Presiden ke-4 RI, yang
tak sembarang orang bisa menirunya, untuk selalu mengedapankan hati nurani
daripada ego dan emosi.
Terlepas dari
lagu itu, setiap lirik didalamnya kaya akan makna dan cukup menarik untuk
diulas dari bait pertama sampai ujungnya. Membela minoritas menjunjung
toleransi, lirik pertama yang membuat semua orang tau, bahwa lagu itu melekat
pada Gus Dur. Mengingat Gus Dur pernah mendapat penghargaan dari Mebal Valor
Los Angeles, karena dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas, salah
satunya membela umat Kong Hu Cu di Indonesia untuk memperoleh hak-haknya yang
sempat terpasung di era sebelumnya. Gus Dur juga dinobatkan sebagai “Bapak
Tionghoa” oleh beberapa tokoh Tinghoa Semarang di Klenteng Tay Kak Sie pada
tahun 2004.
“Hanya orang
bijaksana, yang berani berkata, bahwa Tuhan tidak perlu dibela, karena Dia Yang
Maha Kuasa”. Sepotong bait ini mengingatkan kembali akan pemikiran Gus Dur yang
tertuang dalam berbagai tulisan kemudian dijadikan satu dalam buku. Tulisan-tulisan
yang terbit sejak 1970an tapi masih relevan digunakan sampai sekarang. Gus Dur
dari jauh hari sudah berpesan bahwa “Allah itu Maha Besar. Ia tidak memerlukan
pembuktian akan kebesaranNya. Ia Maha Besar karena Ia ada. Apapun yang
diperbuat orang atas diriNya, sama sekali tidak berpengaruh atas kekuasaanNya”.
Ataupun fenomena
umat tertentu yang melakukan pembuktian keimanan dengan cara arogan dalam
tulisan “Mengapa Mereka Marah”. Gus Dur tidak menyebutkan bahwa itu sesuatu
yang salah, beliau hanya mengajak berpikir apakah tidak ada cara lain yang
solutif untuk maslahat tanpa harus menyalahkan antar umat. Tidak hanya masalah
Islam, namun bagaimana agama bisa berjalan beriringan dengan modernisasi
sehingga mampu menyelesaikan persoalan apapun secara manusiawi dan tercapainya
masyarakat madani.
Sebagai tokoh
yang peduli terhadap persoalan Hak Asasi Manusia, Gus Dur juga memperoleh
penghargaan dari Simon Wiesenthal Center, sebuah yayasan kemanusiaan di Los
Angeles. Maka wajar jika Marzuki memasukkan bait ini, “jihadmu lebih akbar
dari bom bunuh diri, karena kau adalah humanis sejati”.
Pada era pemerintahannya,
Gus Dur meminta agar Departemen Agama bekerja secara adil dan bijaksana dengan
memerhatikan semua elemen masyarakat. Dengan penekanan bahwa semua umat
beragama mempunyai kebebasan untuk berekspresi sesuai dengan keyakinannya. Ya
karena itulah sebenarnya cita-cita Gus Dur, dalam buku Kehidupan Umat Beragama dalam Cita-cita Gus
Dur, Djohan Effendi memaparkan “Gus Dur mendambakan kehidupan beragama yang
ramah. Masing-masing umat beragama meyakini kebenaran agama yang mereka anut,
sebab hanya dalam keyakinan yang tulus terletak makna keberagaman yang hakiki,
tetapi pada saat yang sama mereka juga seyogianya menghormati orang lain untuk
meyakini kebenaran agama yang mereka anut dan melaksanakan secara bebas”.
Menurut
Shofiyullah penulis buku K.H. Wahid Hasyim:Sejarah Pemikiran dan Baktinya Bagi Agama dan Bangsa corak
pemikiran Gus Dur tidak terlepas dari sosok ayahnya. K.H. Wahid Hasyim yang
tampak banyak mengilhami pemikiran putra sulungnya. Mulai dari berpikir
moderat, subtantif, dan inklusif hingga luasnya silaturahmi, baik dari kalangan
Muslim, Non muslim, maupun Nasionalis. Secara tidak langsung Gus Dur dapat
memahami akan sosok ayahnya sebagai tokoh besar yang welcome terhadap berbagai
elemen masyarakat. Hal ini juga sepadan dengan lirik Marzuki “kalau aku jadi
orang toleran, karena ayahku yang menjadi panutan. Kalau aku jadi orang rendah
hati, karena ayahku yang menginspirasi”.
Lain hal lagi
ketika Gus Dur dianggap “liberal” karena pemikiran progresifnya oleh sebagian
orang. Ya wajar, sejak muda sudah khatam berbagai buku ditambah kelanyahan ilmu
agama. Belum lagi faktor pendidikan dan pengalaman selama studi di luar negeri
yang membuat iklim cara berpikir Gus Dur lebih luas dan mendalam. Jejak langkah
Gus Dur seperti memberikan arah kepada generasi selanjutnya agar sadar akan
hakikat menjadi manusia seutuhnya, yakni “menyapa kawan, menyambangi lawan,
silaturrahmi tanpa pandang golongan”.
Beberapa
ucapan, sikap ataupun gagasan Gus Dur hanya mencoba mengejawentahkan serta
merekonsiliasi nilai-nilai local wisdom dan nilai Islami. Dimana hal itu
jelas sebagai pembuktian Gus Dur sebagai Muslim Indonesia. Agama dalam
kehidupan manusia memiliki fungsi yang sangat urgent, yakni sebagai
sumber pijakan atau norma agar terciptanya keharmonisan. Keharmonisan yang
dimaksud secara universal, baik dengan Tuhannya, sesama manusia maupun kepada alam
semesta. Islam sebagai agama yang mengusung misi besar “rahmatan lil
‘alamiin” tidak membenarkan
perilaku kekerasan dengan versi apapun, sejatinya jika masih ada tindak
kekerasan itu bukanlah ajaran agama, namun karena “cethek pikirane lan
kurang adoh dolane”.
Welas asih
telah kau sebarkan, menjadi api yang tak akan padam, semoga kami bisa
mengamalkan, kemanusiaan yang telah kau ajarkan
Komentar
Posting Komentar